Burayot Garut: Asal Nama, Bahan, dan 4 Kue Tradisional Lainnya

7 menit baca

Ringkasan
Burayot Garut adalah kue goreng tepung beras dan gula aren dari Leles, Kadungora, dan Wanaraja. Kenali juga ladu, endog lewo, wajit, dan opak: asal nama, bahan, sentra, dan kisaran harganya.
Daftar isi TampilkanSembunyikan
Burayot Garut adalah kue goreng dari tepung beras dan gula aren yang bentuknya bulat berkerut dan menggantung setelah digoreng. Rasanya manis legit, renyah di bagian luar, dan lembut di dalam. Kue ini berasal dari wilayah Leles, Kadungora, dan Wanaraja di Garut utara, dan kini mudah ditemukan sebagai oleh-oleh.
Burayot punya beberapa saudara sesama kue tradisional Garut, yaitu ladu, endog lewo, wajit, dan opak. Panduan berikut membahas asal dan arti nama masing-masing, bahan, sentra pembuatnya, serta kisaran harga yang tercatat dari sumber. Semua harga berlaku per Oktober 2026 dan dapat berubah.
Burayot Garut: Asal Nama, Bahan, dan Bentuknya
Nama burayot diambil dari bahasa Sunda. Sumber menyebut kata ngagayot atau ngaburayot, yang berarti menggantung atau menggelayut. Nama itu menggambarkan cara burayot ditiriskan: setelah digoreng, kue diangkat dengan tusukan bambu lalu dibiarkan menggantung sampai minyaknya turun.
Ada pula cerita rakyat tentang asal-usulnya. Menurut kisah yang dikutip Good News From Indonesia (Oktober 2025), burayot pertama kali dibuat oleh Nyimas Pugerwangi untuk acara khitanan di Salam Nunggal, kawasan yang kini masuk Leles dan Leuwigoong. Kisah ini adalah tradisi lisan, bukan catatan sejarah tertulis.
Bahan dan cara membuat
Bahan utamanya tepung beras basah dari beras yang direndam lalu digiling, ditambah gula aren yang dicairkan. Sebagian pembuat menambahkan santan, daun pandan, sedikit gula pasir, atau kacang tanah. Prosesnya kira-kira seperti ini:
- Gula aren dicairkan hingga larut sempurna.
- Larutan gula dicampur sedikit demi sedikit ke tepung beras agar tidak menggumpal.
- Adonan dibentuk bulat, lalu digoreng dengan api sedang di wajan besar.
- Setelah kecokelatan, kue diangkat dengan tusukan bambu dan digantung untuk ditiriskan.
Api yang terlalu besar membuat burayot gosong, sedangkan api kecil membuatnya tidak mengembang. Karena itu bentuk dan kerutan burayot bisa berbeda antarpembuat. Kini juga ada varian rasa seperti cokelat, kacang, keju, dan jahe.
Daya tahan burayot
Burayot biasanya dikemas dalam mika plastik beralas kertas nasi atau karton kecil. Burayot tanpa santan dilaporkan tahan sekitar satu minggu, sedangkan yang memakai santan sekitar empat hari. Sumber lain menyebut burayot bisa bertahan beberapa minggu dalam wadah tertutup. Selisih ini wajar karena resep tiap pembuat berbeda, jadi tanyakan langsung kepada penjual.
Ladu Malangbong: Kue Ketan Berbalut Serbuk
Ladu berasal dari Kecamatan Malangbong di Garut bagian timur laut. Sekilas mirip dodol, tetapi teksturnya lebih padat, sedikit kasar, dan bagian luarnya kering karena dibalut tepung ketan sangrai. Rasanya manis dengan aroma kelapa.
Bahannya tepung ketan putih yang disangrai, gula aren atau gula merah, sedikit gula pasir, dan kelapa parut. Menurut tulisan Mojok (Juni 2025), ladu awalnya dibuat seorang ibu rumah tangga bernama Musti'ah pada 1930-an sebagai suguhan untuk tamu, lalu mulai dijual karena banyak yang menyukainya. Asal kata "ladu" sendiri belum kami temukan penjelasannya dari sumber yang jelas.
Salah satu produsen yang tercatat dalam penelitian adalah usaha Ladu Ketan Lestari di Desa Malangbong, yang sudah berproduksi lebih dari 30 tahun. Ladu termasuk kue yang sebaiknya dihabiskan dalam beberapa hari agar teksturnya tetap enak.
Endog Lewo: Camilan Singkong dari Kampung Lewo
Endog lewo adalah camilan goreng dari singkong parut berbumbu yang dibentuk bulat kecil, lalu digoreng hingga renyah. Namanya mudah dipahami: endog berarti telur dalam bahasa Sunda, sesuai bentuknya, sedangkan Lewo adalah nama kampung tempat camilan ini dibuat, di Kecamatan Malangbong.
Dulu camilan ini dikenal dengan nama emplod. Namanya diganti menjadi endog lewo agar lebih mudah dipasarkan ke luar Garut. Menurut Pemprov Jawa Barat, endog lewo sudah dibuat sejak 1960-an, dengan kawasan produksi di Desa Sukaratu dan Desa Sukajaya. Pada 2025, endog lewo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Jawa Barat.
Selain varian original, ada varian pedas dan varian pipih dengan irisan bawang. Produknya dijual di pasar tradisional dan toko oleh-oleh di Garut dan kota lain di Jawa Barat. Karena kering dan digoreng, endog lewo relatif aman dibawa untuk perjalanan jauh.
Wajit: Ketan Gula Aren dalam Bungkus Kering
Wajit adalah penganan dari beras ketan, gula aren, dan santan atau kelapa parut yang dimasak lama hingga kenyal. Bahannya mirip dodol, tetapi wajit dipotong kecil lalu dibungkus satu per satu. Sebagian besar sumber menyebut bungkusnya kulit jagung kering atau klobot, sementara satu sumber menyebut pelepah kawung (aren).
Wajit dibuat di banyak daerah Sunda, dan sentranya di Garut disebut berbeda-beda. Sumber yang kami temukan menyebut Cisompet, Cihurip, dan Malangbong. Karena itu kami tidak menunjuk satu kecamatan sebagai asal tunggal wajit Garut. Asal kata "wajit" juga belum ditemukan dari sumber tepercaya.
Wajit dilaporkan tahan sekitar dua sampai tiga minggu pada suhu ruang tanpa pengawet. Daya tahan ini membuatnya cocok sebagai oleh-oleh, terutama bila Anda pulang dari arah Garut selatan yang perjalanannya panjang.
Opak: Kerupuk Ketan Tipis yang Gurih
Opak adalah kerupuk tipis dari beras ketan yang dicampur sari kelapa atau santan, garam, dan sedikit gula. Prosesnya dimulai dari ketan yang dikukus dan ditumbuk, lalu dicetak tipis, dijemur, dan dipanggang sampai renyah. Rasanya gurih ringan dengan sedikit manis.
Opak bukan hanya milik Garut. Kue serupa juga dibuat di daerah lain di Jawa Barat. Meski begitu, opak termasuk camilan yang sering dijual di toko oleh-oleh Garut karena kering, ringan, dan tahan lama. Kami belum menemukan sumber yang menunjuk satu desa sentra opak di Garut, sehingga bagian ini tidak menyebut lokasi produksi tertentu.
Perbandingan dan Kisaran Harga Lima Kue Tradisional
Tabel ini merangkum asal, bahan, daya tahan, dan harga yang ditemukan dari sumber. Harga di toko oleh-oleh bisa berbeda dengan harga di produsen.
| Kue | Asal atau sentra | Bahan utama | Daya tahan | Kisaran harga |
|---|---|---|---|---|
| Burayot | Leles, Kadungora, Wanaraja | Tepung beras, gula aren | Sekitar 4 hari sampai beberapa minggu | Mulai Rp20 ribu isi 10 (Juni 2025) |
| Ladu | Malangbong | Tepung ketan sangrai, gula aren, kelapa | Beberapa hari | Mulai sekitar Rp15 ribu (Juni 2025) |
| Endog lewo | Kampung Lewo, Malangbong | Singkong, tapioka | Kering, tahan lama | Sekitar Rp35 ribu per kg di produsen (Maret 2024) |
| Wajit | Disebut Cisompet, Cihurip, Malangbong | Ketan, gula aren, santan | Sekitar 2–3 minggu | Belum ada data harga |
| Opak | Belum ada sentra tunggal | Ketan, kelapa, garam | Kering, tahan lama | Belum ada data harga |
Burayot di pasaran juga dikemas dalam beberapa ukuran. Sebuah penelitian tentang pembuat burayot di Leles mencatat kemasan kecil, sedang, dan besar berisi rata-rata 22, 40, dan 50 buah. Bandingkan isi kemasan, bukan hanya harganya.
Tempat Membeli Burayot dan Kue Tradisional Garut
Cara paling mudah adalah membeli langsung di daerah asalnya saat melintas. Leles dan Kadungora berada di jalur utama Bandung–Garut, sehingga burayot bisa dibeli dalam perjalanan masuk atau keluar Garut. Burayot juga dijual di kios warga di sekitar kawasan Candi Cangkuang di Kecamatan Leles, yang bisa digabung dengan kunjungan ke Kampung Pulo di tepi Situ Cangkuang.
Ladu dan endog lewo paling mudah dicari di Malangbong. Ulasan Mojok (Juni 2025) menyebut ladu dijual di Toko Joglo Abah, Jalan Oto Iskandar Dinata No. 8. Pastikan dulu jam bukanya, karena kami belum mengecek toko ini secara langsung.
Bila waktu Anda terbatas, toko oleh-oleh besar di Garut Kota dan Tarogong umumnya menjual burayot, wajit, opak, dan endog lewo bersama dodol. Daftar toko, jam buka, dan oleh-oleh nonmakanan dibahas di panduan oleh-oleh Garut dan tempat belinya.
Tips Membeli dan Membawa Pulang Kue Tradisional Garut
- Tanyakan bahan dan daya tahan. Burayot bersantan dan ladu lebih cepat basi dibanding endog lewo atau opak.
- Beli kue basah di hari terakhir. Ladu dan burayot sebaiknya dibeli menjelang pulang agar masih segar saat dibagikan.
- Simpan di wadah tertutup. Burayot dan opak cepat melempem bila terkena udara lembap.
- Jangan menumpuk barang berat di atasnya. Burayot dan opak mudah remuk di dalam bagasi.
- Bandingkan isi kemasan. Harga per mika atau per kilogram berbeda antara produsen dan toko oleh-oleh.
Bila Anda menyusun perjalanan singkat, selipkan mampir ke Leles di awal atau akhir rute. Contoh pembagian waktu per hari ada di itinerary Garut 2 hari 1 malam. Ulasan tempat makan lain di Garut dapat Anda telusuri di kategori kuliner.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apa arti nama burayot?
Nama burayot berasal dari kata Sunda ngagayot atau ngaburayot yang berarti menggantung. Nama ini merujuk pada cara kue ditiriskan, yaitu digantung pada tusukan bambu setelah digoreng.
Berapa lama burayot bisa disimpan?
Burayot tanpa santan dilaporkan tahan sekitar satu minggu, sedangkan yang memakai santan sekitar empat hari. Sebagian penjual menyebut lebih lama bila disimpan di wadah tertutup, jadi tanyakan langsung saat membeli.
Apa bedanya ladu dan dodol?
Keduanya berbahan ketan dan gula, tetapi ladu memakai tepung ketan sangrai dan kelapa parut sehingga lebih padat dan sedikit kasar. Bagian luar ladu juga kering karena dibalut serbuk ketan, sedangkan dodol licin dan lengket.
Apakah endog lewo terbuat dari telur?
Tidak. Endog lewo terbuat dari singkong dan tapioka. Kata endog yang berarti telur dipakai karena bentuknya bulat seperti telur kecil, sedangkan Lewo adalah nama kampung asalnya di Malangbong.
Di mana membeli burayot selain di Leles?
Burayot juga dibuat di Kadungora dan Wanaraja, dan dijual di toko oleh-oleh di Garut Kota dan Tarogong. Beberapa produsen juga menjualnya secara daring.

Ditulis oleh
Jajang Yusup
