Seni & Budaya

Kesenian Lais Garut: Sejarah, Gerakan, dan Cara Pertunjukannya

Jajang Yusup
Jajang Yusup

6 menit baca

Diperbarui

Pelais beratraksi di atas tali yang terbentang di antara dua tiang bambu tinggi

Ringkasan

Kesenian lais Garut adalah akrobat tradisional Sunda di atas tali yang dibentangkan di antara dua bambu setinggi sekitar 12–13 meter. Lais berasal dari kisah Pak Laisan, pemanjat kelapa di Sukawening, dan kini dilestarikan di Cibatu.

Daftar isi Tampilkan

Kesenian lais Garut adalah pertunjukan akrobat tradisional Sunda di atas seutas tali tambang yang dibentangkan di antara dua batang bambu setinggi sekitar 12–13 meter. Seorang pemain yang disebut pelais memanjat bambu, lalu berputar, telungkup, dan berayun di atas tali tanpa alat pengaman, diiringi tabuhan dogdog dan terompet.

Kesenian ini lahir dari kebiasaan seorang pemanjat kelapa bernama Pak Laisan di Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening. Kini lais justru lebih banyak dilestarikan di Kecamatan Cibatu dan terhitung langka. Berikut sejarah, perlengkapan, urutan pertunjukan, gerakan khas, hingga kondisi pelestariannya.

Apa Itu Kesenian Lais Garut

Lais adalah seni pertunjukan ketangkasan. Daya tariknya terletak pada keberanian dan keseimbangan pelais yang beratraksi belasan meter di atas tanah. Penonton biasanya ikut tegang karena pemain hanya mengandalkan kekuatan tangan, kaki, dan kelenturan tubuh.

Sekilas lais mirip atraksi tali di sirkus. Bedanya, lais tumbuh dari kehidupan petani kampung, diiringi musik tradisional, dan diselingi lawakan berbahasa Sunda. Pertunjukannya juga kerap diawali doa dan sesajen sebagai bagian dari tata cara adat.

Lais termasuk kesenian khas Garut yang dibahas dalam sejumlah kajian akademik, antara lain dari Universitas Padjadjaran dan ISBI Bandung. Sebagai bagian dari ragam seni dan budaya Garut, lais sering disandingkan dengan kesenian rakyat lain yang memadukan musik dan atraksi.

Sejarah Lais: Dari Pak Laisan di Nangka Pait

Menurut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, nama lais diambil dari nama Pak Laisan. Ia dikenal sebagai pemanjat pohon kelapa yang piawai di Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening, sejak masa kolonial Belanda.

Cara Pak Laisan memetik kelapa berbeda dari kebanyakan orang. Setelah memanjat satu pohon, ia tidak langsung turun. Ia bergelantung pada pelepah daun dan berayun ke pohon kelapa berikutnya. Karena keahliannya, warga sering memanggilnya untuk memetik kelapa.

Keterampilan itu lama-kelamaan menjadi tontonan, terutama bagi anak-anak. Warga yang menonton bersorak, bernyanyi, menari, dan menabuh benda seadanya seperti bambu dan kaleng. Para tokoh kesenian setempat kemudian mengemasnya menjadi pertunjukan hiburan.

Dalam bentuk pertunjukan, pohon kelapa diganti dua batang bambu, sedangkan pelepah diganti tali tambang. Keahlian ini lalu diajarkan turun-temurun kepada pemuda kampung. Kajian tahun 2018 mencatat lais justru mulai punah di Nangka Pait, tempat kelahirannya.

Perlengkapan dan Pemain dalam Pertunjukan Lais

Panggung lais sederhana, tetapi pemasangannya harus kokoh. Dua batang bambu panjang ditancapkan ke tanah dengan jarak sekitar 6 meter. Bagian puncaknya dihubungkan seutas tali tambang yang menjadi arena utama pelais.

Ketinggian bambu yang dilaporkan bervariasi menurut kelompok dan tempat pentas. Liputan media mencatat kisaran 12–14 meter, bahkan ada pementasan dengan bambu sekitar 16 meter.

UnsurJumlah atau ukuranPeran
Bambu penyangga2 batang, sekitar 12–13 meterTiang panjat dan tumpuan tali
Tali tambangTerbentang sekitar 6 meterArena atraksi, pengganti pelepah kelapa
Pelais1 orangMemanjat dan beratraksi di atas tali
Pelawak (bodor)1 orangMenghangatkan suasana dan berdialog dengan pelais
Penabuh dogdogSekitar 4 orangMenjaga irama pertunjukan
Peniup terompet1–2 orangMembawakan melodi pengiring

Secara keseluruhan, satu pertunjukan melibatkan sekitar 7–9 orang. Sebagian kelompok menambahkan kendang pencak dan kempul, sehingga iringannya mirip musik reog dogdog dan pencak silat. Durasi satu kali pentas dilaporkan sekitar 45 menit.

Urutan Pertunjukan dan Gerakan Khas Pelais

Pertunjukan lais umumnya berjalan dalam beberapa tahap. Urutannya bisa sedikit berbeda antarkelompok, tetapi polanya serupa.

  1. Persiapan dan doa. Rombongan menyiapkan sesajen dan berdoa sebelum atraksi dimulai.
  2. Pembukaan musik. Dogdog dan terompet ditabuh untuk mengundang penonton berkumpul.
  3. Lawakan pembuka. Pelawak menghibur penonton dan memancing suasana sebelum pelais tampil.
  4. Memanjat bambu. Pelais memanjat salah satu batang bambu hingga ke puncak, lalu berpindah ke tali.
  5. Atraksi di atas tali. Pelais memperagakan rangkaian gerakan sambil sesekali berdialog dengan pelawak di bawah.
  6. Turun dengan kepala di bawah. Pertunjukan ditutup dengan pelais turun dari bambu dalam posisi kepala lebih dulu.

Gerakan pelais punya nama-nama khas dalam bahasa Sunda. Beberapa yang tercatat dalam liputan dan kajian antara lain:

  • Leha-leha, berbaring santai di atas tali seolah sedang beristirahat.
  • Ngaitkeun suku, mengaitkan kaki ke tali lalu menggantung.
  • Koprol atau jungkir balik di atas tali.
  • Beulit kacang, melilitkan tubuh ke tali seperti tanaman kacang merambat.
  • Ngolecer, berputar cepat di tali seperti baling-baling mainan.

Selain itu, pelais biasa telungkup, tiduran, dan bergelantung atau berpindah dengan satu tangan. Semua dilakukan tanpa sabuk pengaman, sehingga pemain wajib menjalani latihan fisik yang berat dan panjang.

Fungsi dan Makna Lais bagi Masyarakat

Pada awalnya lais adalah hiburan rakyat. Kelompok lais diundang untuk memeriahkan khitanan, pernikahan, dan syukuran warga. Lais juga kerap tampil dalam acara besar daerah, seperti peringatan hari jadi Garut.

Bagi pelakunya, lais tidak sekadar tontonan. Kesenian ini dimaknai sebagai sarana melatih kekuatan fisik, keberanian, dan kemampuan menyatu dengan alam. Akar ceritanya pun dekat dengan keseharian petani kelapa di kampung.

Unsur lawakan dan dialog membuat lais terasa akrab. Penonton tidak hanya menahan napas melihat atraksi, tetapi juga tertawa mendengar candaan pelawak. Perpaduan ketegangan dan humor ini serupa dengan kesenian arak-arakan seperti kesenian surak ibra yang juga mengandalkan kekompakan rombongan.

Tempat Lais Masih Dilestarikan dan Tantangan Regenerasi

Salah satu kelompok yang tercatat masih aktif adalah Padepokan Lais Pancawarna di Kampung Sayang, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu. Padepokan ini dipimpin sesepuh lais, Ade Dadang, dan menjadi objek penelitian Universitas Padjadjaran pada 2018. Kawasan Cibatu juga dikenal lewat objek lain seperti Kampung Bali Garut.

Penelitian tersebut menyebut lais sebagai kesenian Garut yang hampir punah. Ada tiga pola pewarisan yang dipakai untuk menjaganya:

  • Vertikal, diturunkan dari orang tua kepada anak dalam keluarga pelaku lais.
  • Diagonal, melalui pendidikan formal maupun nonformal, termasuk sanggar dan padepokan.
  • Horizontal, lewat pelatihan antaranak atau teman sebaya di lingkungan kampung.

Tantangannya nyata. Liputan tahun 2021 menyebut banyak pemuda desa merantau ke kota, sehingga calon pelais makin sedikit. Tulisan tentang pementasan lais di ISBI Bandung pada akhir 2025 juga mencatat kesempatan tampil dan ruang belajar yang kian berkurang.

Atraksi serupa lais juga dikenal di luar Garut. Pada West Java Festival, 9 November 2025, lais dibawakan warga Kasepuhan Sirnaresmi, Sukabumi. Lais juga tampil di Situs Budaya Karangkamulyan, Ciamis, pada 24 Desember 2025.

Status Lais sebagai Warisan Budaya Takbenda

Lais tercatat dalam basis data Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk domain seni pertunjukan dari Jawa Barat. Sejumlah rujukan sekunder menyebut pencatatannya sejak 2010.

Perlu dibedakan antara pencatatan dan penetapan. Pencatatan berarti kesenian sudah masuk inventaris nasional. Penetapan WBTb Indonesia adalah tahap lanjutan yang diputuskan lewat sidang khusus. Hingga Oktober 2026, belum ditemukan sumber yang menyebut lais sudah ditetapkan sebagai WBTb Indonesia.

Status ini menunjukkan lais diakui sebagai bagian dari kekayaan budaya Sunda yang perlu dijaga. Pola pelestariannya mirip seni tradisi lain, misalnya jenis wayang golek Sunda yang juga bergantung pada regenerasi dalang dan perajinnya.

Tips Menonton atau Mengundang Pertunjukan Lais

Lais tidak memiliki jadwal pentas rutin yang diumumkan secara terbuka. Agar peluang menyaksikannya lebih besar, perhatikan langkah berikut.

  • Pantau acara daerah. Lais kerap tampil pada peringatan hari jadi Garut, festival budaya, dan acara kebudayaan tingkat provinsi.
  • Hubungi kanal resmi. Tanyakan jadwal atau kelompok aktif ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut atau pemerintah desa setempat.
  • Jaga jarak aman. Saat menonton, beri ruang di sekitar tiang bambu dan ikuti arahan rombongan.
  • Siapkan lahan yang sesuai. Bila ingin mengundang lais untuk hajatan, sediakan area terbuka yang cukup untuk dua tiang bambu berjarak sekitar 6 meter.
  • Hormati tata cara adat. Beri waktu bagi rombongan untuk berdoa dan menyiapkan sesajen sebelum atraksi.

Bila Anda sedang merencanakan perjalanan budaya, gabungkan pengalaman ini dengan kunjungan ke Kampung Pulo Garut untuk mengenal adat Sunda yang masih terjaga.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Lais berasal dari daerah mana?

Lais berasal dari Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kini kelompok yang tercatat masih aktif berada di Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu.

Mengapa kesenian ini dinamakan lais?

Namanya diambil dari Pak Laisan atau Pak Lais, pemanjat kelapa yang piawai berpindah antarpohon dengan bergelantung pada pelepah. Kebiasaannya itu kemudian dikemas menjadi pertunjukan.

Alat musik apa yang mengiringi pertunjukan lais?

Iringan utamanya dogdog dan terompet. Sebagian kelompok menambahkan kendang pencak dan kempul, sehingga suasananya mirip iringan reog dogdog dan pencak silat.

Apakah pemain lais memakai pengaman?

Tidak. Pelais beratraksi tanpa sabuk atau tali pengaman dan hanya mengandalkan kekuatan serta keseimbangan tubuh. Karena itu pemain harus menjalani latihan berat sebelum tampil.

Berapa lama satu pertunjukan lais?

Satu pertunjukan dilaporkan berlangsung sekitar 45 menit, termasuk musik pembuka dan lawakan. Atraksi di atas tali sendiri bisa lebih singkat, tergantung acara.

Jajang Yusup

Ditulis oleh

Jajang Yusup