Surak Ibra Garut: Sejarah, Susunan Pertunjukan, dan Maknanya


Ringkasan
Surak Ibra adalah seni pertunjukan rakyat Garut dari Cinunuk, Wanaraja, yang memadukan gerak silat, musik dogdog dan kendang pencak, serta sorak-sorai puluhan pemain. Kesenian sejak 1910 ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022.
Daftar isi TampilkanSembunyikan
Surak Ibra adalah seni pertunjukan rakyat khas Garut yang memadukan gerak pencak silat, tabuhan musik bambu dan kendang, serta sorak-sorai puluhan pemain. Puncaknya adalah adegan boboyongan, ketika seorang tokoh diangkat, dilempar, lalu ditangkap kembali oleh para pemain. Kesenian ini berakar di Kampung Sindangsari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja.
Pada 2022, Surak Ibra ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam kategori seni pertunjukan. Berikut sejarahnya, susunan pertunjukan, alat musik pengiring, makna yang dikandung, kondisi pelestariannya sekarang, serta tips bila Anda ingin menyaksikannya langsung.
Apa Itu Surak Ibra dan Asal Namanya
Kata "surak" dalam bahasa Sunda berarti sorak atau teriakan bersama. Nama kesenian ini memang lahir dari ciri pertunjukannya yang penuh suara senggak dan sorak-sorai. Sebelum dikenal sebagai Surak Ibra, kesenian ini disebut Boboyongan atau Boyongan, dari kata "boyong" yang berarti mengangkat atau memindahkan.
Asal nama "Ibra" punya beberapa versi. Catatan lama menyebut Ibra sebagai pendekar silat yang disegani di Garut, sehingga namanya dipakai sebagai bentuk penghormatan. Versi lain menyebut nama itu diambil dari pemain bernama Ibra yang teriakannya paling lantang. Di Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, Bapak Ibra bahkan dicatat sebagai pencipta kesenian versi setempat.
Perbedaan versi ini wajar untuk kesenian rakyat yang diwariskan secara lisan. Yang disepakati sumber-sumber adalah Surak Ibra merupakan seni helaran Garut yang memadukan unsur musik, tari, dan rupa dalam satu pertunjukan kolosal.
Sejarah Surak Ibra Sejak 1910
Penelitian sejarah dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung mencatat Surak Ibra diciptakan oleh Rd. Djajadiwangsa bin Rd. Wangsa Muhamad sejak 1910. Rd. Wangsa Muhamad dikenal masyarakat setempat sebagai Pangeran Papak, tokoh yang dihormati di Wanaraja. Tujuannya agar warga Desa Cinunuk tetap bersemangat dan mau berjuang melawan penjajahan lewat kesenian.
Karena itu, Surak Ibra sering disebut sebagai sindiran terhadap pemerintah kolonial Belanda yang bertindak sewenang-wenang. Di sisi lain, kesenian ini juga dipakai untuk memupuk persatuan antarwarga. Beberapa catatan penting dalam riwayatnya:
- 1910: kesenian mulai dimainkan di Cinunuk. Riwayat tutur juga menyebut nama Surak Eson, dari tokoh bernama Eson yang sempat mengembangkannya.
- 30 Mei 1910: masyarakat Kasepuhan Cinunuk membentuk Himpunan Dalem Emas (HDE) yang ikut melestarikan Surak Ibra.
- Masa kabupaten: Surak Ibra digelar saat para dalem atau bupati Garut mengadakan hajatan dan hari besar, sehingga dikenal pula sebagai "pesta raja".
- 1948: menurut catatan lama, HDE dibubarkan dan pelestarian dilanjutkan oleh aparat desa bersama warga.
- 2007–2018: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Garut tercatat mendukung lewat pementasan, bantuan dana, dan pertukaran budaya dengan daerah lain.
- 2022: ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Susunan Pertunjukan Surak Ibra
Pertunjukan Surak Ibra didominasi laki-laki dan melibatkan banyak orang. Disparbud Garut menyebut jumlah pemainnya 30 hingga 60 orang, sedangkan sumber lain mencatat 40 sampai 100 orang untuk pertunjukan besar. Kostumnya mengikuti pakaian pesilat, kini sering berwarna cerah seperti kuning dan merah.
Urutan pertunjukan yang umum terdokumentasi adalah sebagai berikut:
- Pembukaan dengan obor: beberapa pemuda berbaris berbanjar sambil membawa obor bambu menyala dan memperagakan gerakan silat.
- Masuknya rombongan penari: puluhan pemain berkostum pesilat bergerak serempak penuh semangat, mengikuti aba-aba seorang pemimpin atau komando.
- Sorak-sorai: pemain bersahut-sahutan dengan teriakan yang dalam bahasa Sunda disebut eak-eakan, sementara musik terus bertalu.
- Formasi lingkaran dan boboyongan: lingkaran makin rapat, lalu seorang tokoh diangkat, dilempar ke atas, dan ditangkap kembali berulang kali.
- Helaran penutup: pemain kembali ke formasi semula dan berarak dengan iringan musik yang makin ramai.
Peran pemimpin sangat penting. Lewat aba-abanya, gerak penari, teriakan, dan musik pengiring berjalan dalam satu irama. Adegan boboyongan juga menuntut kekompakan agar tokoh yang dilempar dapat ditangkap dengan aman.
Alat Musik dan Lagu Pengiring
Musik Surak Ibra mirip iringan kendang pencak yang biasa mengiringi silat Sunda. Bedanya, ada tambahan alat musik bambu yang membuat bunyinya lebih riuh. Alat yang tercatat dalam berbagai sumber antara lain:
- Kendang pencak, berfungsi mengatur tempo, bukan sebagai alat utama.
- Dogdog, kendang kecil satu muka yang memberi pola ritme berulang.
- Angklung, sebagai pelengkap yang menambah warna bunyi bambu.
- Kentongan bambu dan keprak, memperkuat ketukan dan suasana meriah.
- Terompet (tarompet), disebut dalam sebagian dokumentasi sebagai pembawa melodi.
Lagu yang biasa dibawakan bernuansa pencak, seperti Golempang dan Padungdung. Kajian musik dari Universitas Pendidikan Indonesia (2013) membagi struktur musiknya menjadi tiga bagian, yaitu pembukaan, isi, dan penutup. Fungsinya sebagai pengiring gerak sekaligus bunyi-bunyian yang lahir dari suara manusia, yakni sorak-sorai itu sendiri.
Perpaduan gerak silat dan tabuhan kendang ini mirip dengan kesenian Garut lain yang menonjolkan keberanian pemainnya. Bandingkan misalnya dengan kesenian Lais yang memadukan akrobat di atas tali.
Makna di Balik Surak Ibra
Surak Ibra bukan sekadar hiburan. Ada beberapa makna yang dikaitkan dengan kesenian ini oleh pelaku dan peneliti:
- Perlawanan dan sindiran: lahir di masa kolonial, kesenian ini menyalurkan protes terhadap penguasa yang sewenang-wenang tanpa konfrontasi terbuka.
- Persatuan: puluhan orang harus bergerak dan bersorak serempak, sehingga pertunjukannya menjadi simbol kekompakan warga dan pemimpinnya.
- Syukuran dan penghormatan: adegan mengangkat tokoh menggambarkan penghormatan kepada sosok yang disegani, seperti Ibra sang pendekar.
- Teatrikal: jumlah pemain yang besar dan adegan naik-turun boboyongan memberi kekuatan dramatik, sehingga Surak Ibra mudah dikemas sebagai pertunjukan kolosal di panggung terbuka.
Status Warisan Budaya Takbenda dan Pelestariannya
Surak Ibra masuk daftar Warisan Budaya Takbenda Jawa Barat yang diumumkan pemerintah provinsi pada Februari 2022. Pada tahun yang sama, Kemendikbudristek menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia bersama 18 karya budaya Jawa Barat lainnya. Sertifikatnya diserahkan pada Malam Apresiasi Kebudayaan Indonesia, 9 Desember 2022, di Jakarta.
Meski sudah diakui, pelestariannya tidak mudah. Kajian tahun 2019 menggolongkan Surak Ibra sebagai kesenian langka yang terancam. Regenerasi pemain muda menjadi tantangan, dan kelompoknya disebut belum memiliki sanggar tetap. Program pengenalan di sekolah dasar juga sempat berjalan, namun dilaporkan tidak berlanjut.
Di sisi lain, Surak Ibra masih tampil di acara besar. Kesenian ini dipentaskan pada peringatan hari besar nasional dan Hari Jadi Garut, serta tercatat menjadi wakil Kabupaten Garut dalam Kirab Budaya Tatar Sunda "Binokasih Mulang Salaka" di Sumedang pada 2 Mei 2026.
Tips Menyaksikan Surak Ibra di Garut
Surak Ibra tidak memiliki jadwal pentas rutin atau gedung pertunjukan tetap. Kesempatan menontonnya biasanya muncul pada momen tertentu, jadi rencanakan kunjungan Anda dengan langkah berikut:
- Pantau kalender acara Garut, terutama peringatan Hari Jadi Garut, Hari Kemerdekaan pada Agustus, dan festival budaya kabupaten atau provinsi.
- Tanyakan ke Disparbud Garut atau pemerintah desa di Cinunuk, Wanaraja, bila ingin tahu rencana pementasan atau mengundang kelompok untuk acara.
- Datang lebih awal karena pertunjukan helaran bergerak di jalan atau lapangan, dan penonton biasanya berkerumun di sekitar formasi lingkaran.
- Jaga jarak dari adegan boboyongan dan obor menyala, serta ikuti arahan panitia.
- Minta izin sebelum memotret dari dekat, terutama bila Anda ingin mendokumentasikan pemain atau sesepuh kelompok.
Wanaraja berada di sisi timur laut pusat kota Garut. Anda bisa menggabungkan kunjungan dengan situs sejarah sekitarnya, misalnya ziarah ke Makam Godog di Karangpawitan, atau menjelajahi objek wisata di Garut timur.
Untuk mengenal kekayaan seni Sunda lain yang hidup di Garut, baca juga ulasan tentang jenis wayang golek dan dalang ternama, lalu lihat kumpulan seni dan budaya Garut sebelum menyusun jadwal perjalanan Anda.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Surak Ibra berasal dari mana?
Surak Ibra berasal dari Kampung Sindangsari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Versi setempat juga hidup di Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu.
Siapa pencipta Surak Ibra?
Penelitian sejarah mencatat Surak Ibra diciptakan oleh Rd. Djajadiwangsa bin Rd. Wangsa Muhamad sejak 1910. Nama Ibra sendiri merujuk pada tokoh pendekar atau pemain bernama Ibra, tergantung versi cerita.
Apa nama lain kesenian Surak Ibra?
Kesenian ini juga dikenal sebagai Boboyongan atau Boyongan, dari adegan mengangkat tokoh beramai-ramai. Riwayat tutur juga menyebut nama Surak Eson.
Berapa jumlah pemain Surak Ibra?
Disparbud Garut menyebut 30 hingga 60 pemain, sedangkan pertunjukan besar bisa melibatkan 40 sampai 100 orang. Jumlahnya menyesuaikan acara dan ruang pentas.
Apakah Surak Ibra termasuk warisan budaya takbenda?
Ya. Surak Ibra ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022 dalam kategori seni pertunjukan. Sertifikatnya diserahkan kepada Pemprov Jawa Barat pada 9 Desember 2022.

Ditulis oleh
Jajang Yusup

